PIKAT 75

Halaman

  • Beranda
  • Tentang PIKAT
  • Visi dan Misi
  • Struktur Kepengurusan
Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

Birrul Walidain

BIRRUL WALIDAIN
Berbuat Baik Kepada Ibu Bapak

Abu Hurairah radhiallahu 'anh berkata:
Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-baiknya?” Baginda menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Baginda menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Baginda menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Baginda menjawab: “Ayah kamu.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya – hadis no: 5971 (Kitab al-Adab, Bab siapakah manusia yang paling berhak untuk dilayan dengan baik).
Jika kita ditanya “Apa agama Mu?” kemudian kita menjawab, “Agama kami Islam.” Apakah ketika kita menjawab pertanyaan itu pernah terlintas dibenak kita, sudah sejauh mana keislaman kita? Apakah hanya sekedar hitam di atas putih pada Kartu Tanda Penduduk?
Sebagai seorang muslim, sudah tentu kita harus melaksanakan rukun Islam. Kemudian menjalani perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Jangan sampai kita melakukannya separuh-separuh apalagi melakukan yang sebaliknya.
Ada suatu hal yang terkadang perlu menjadi renungan bagi kita semua, yakni mengenai pengabdian terhadap orang tua. Perlu kita ketahui bahwa dalam salah satu hadits dikatakan:
“Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.”
Begitu besar penghargaan Allah terhadap orang tua hingga Allah sendiri berfirman dalam Al Quran yang mulia:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, (terutama kepada ibunya), karena ibunyalah yang mengandungnya dengan berbagai susah payah, dan menyapihnya dalam (umur) dua tahun. Oleh karena itu hendaklah kamu bersyukur kepada Ku (hai manusia) dan juga kepada Kedua orang tuamu.” ( QS. Luqman 14 )
Sungguh besar penghargaan Allah terhadap orang tua. Bahkan bagi orang tua yang tidak seagama, Allah tetap memberi penghargaan kepada mereka dengan sebuah penghormatan untuk bersikap baik dan tetap mematuhinya selama itu tidak menyimpang dari syariat Islam. Para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib selain terhadap perkara yang haram.
Birrul Walidain (Berbuat Baik Kepada Ibu Bapak) merupakan bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Syari’at Islam meletakkan kewajipan birrul walidain menempati ranking kedua setelah beribadah kepada Allah SWT.



Bagaimana cara melaksanakan Birrul Walidain?
1. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah
Sa’ad bin Abi Waqas – semoga Allah merahmatinya –  menerapkan bagaiman konteks Birrul Walidain mempertahankan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat ibunya mengetahui bahwa Sa’ad memeluk agama Islam, ibunya mempengaruhi dia agar keluar dari Islam sedangkan Sa’ad terkenal sebagai anak muda yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ibunya sampai mengancam kalau Sa’ad tidak keluar dari Islam maka ia tidak akan makan dan minum sampai mati. Dengan kata-kata yang lembut Sa’ad merayu ibunya “ Jangan kau lakukan hal itu wahai Ibunda, tetapi saya tidak akan meninggalkan agama ini walau apapun gantinya atau risikonya”.
Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman: 15)
Tidak bosan-bosannya Sa’ad menjenguk ibunya dan tetap berbuat baik kepadanya serta menegaskan hal yang sama dengan lemah lembut sampai suatu ketika ibunya menyerah dan menghentikan mogok makannya.
2. Berbakti dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapanya…” (QS. Al-Ahqaaf: 15)
 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapa…” (QS. An-Nisaa’: 36)
Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga keadaan mereka melemah dan sangat memerlukan bantuan dan perhatian daripada anaknya.
3. Merendahkan Diri Di Hadapan Keduanya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS. Al-Israa’: 23-24)
4. Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka
Nabi Ibrahim ‘alaihiisalam mempunyai ayah yang bernama Azar yang aqidah-nya menyalahi dengan Nabi Ibrahim ‘alaihiisalam tetapi tetap menunjukan birrul walidain yang dilakukan seorang anak kepada bapaknya. Dalam menegur ayahnya beliau menggunakan kata-kata yang mulia dan ketika mengajak ayahnya agar kejalan yang lurus dengan kata-kata yang lembut sebagaimana dikisahkan Allah pada QS. 19 : 41-45.
5. Menyediakan Makanan Untuk Mereka
Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata si Ibu sudah tidur. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang bekas berisi air tersebut hingga pagi. (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)
6. Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya
Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Ya, Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” (HR. Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)
7. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.
8. Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka
Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.
9. Memenuhi Sumpah Kedua Orang Tua
Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.
10. Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain
Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abi Asid bin Malik bin Rabiah As Saidi berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di Majelis Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang dari Bani Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah sesudah ibu bapakku meninggal dunia masih ada sisa bakti yang dapat aku persembahkan kepada keduanya?.”

Mendengar pertanyaan itu, Baginda Nabi Saw mengangguk mengiyakan dan bersabda, “Ya dengan jalan mengirimkan doa untuk keduanya, memohonkan ampun, menepati janji dan nazhar yang pernah diikrarkan ibu bapakmu, memelihara hubungan silaturahim dan memuliakan sahabat keduanya,” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah semua amal perbuatannya, kecuali dari tiga sumber: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Selain mendoakan, berziarah ke makam orang tua juga termasuk merupakan bentuk birrul walidain. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda,”Barang siapa yang berziarah ke kubur kedua orang tuanya, atau salah satu dari keduanya pada tiap Jumat, maka dosanya akan diampuni Allah da ia dinyatakan sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath).

Kemudian, membina hubungan baik (tali silaturahim) dengan sahabat-sahabat orang tuanya. “Saya datang ke Madinah, kata Abu Burdah ra, lalu Abdullah bin Umar datang menemui saya seraya bertanya, “Tahukah engkau mengapa saya menemuimu?”, “tidak”, jawabku dengan juujur. Lalu ia menjelaskan, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin berhubungan dengan ayahnya yang telah wafat hendaklah dia menghubungi kenalan dan sudara-saudara ayahnya, sesudah ayahnya meninggal.” Kebetulan antara Umar ayahku, dan ayahmu terjalin persudaraan yang akrab sekali, maka saya ingin melanjutkan hubungan baik itu.” (HR. Abdurrazaq dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya).
Baca Selengkapnya → Birrul Walidain
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pemuda, Pesona Dakwah, Selembar Kisah

Minggu, 08 September 2013

Urgensi Tarbiyah Islamiyah


Mengapa Tarbiyah Islamiyah itu penting?


v Berkurangnya jumlah orang shaleh
Bisakah antum bayangkan masjid-masjid yang kini diisi oleh para kyai yang semakin renta dimakan usia mulai kosong karena Allah memanggil mereka? Atau bagaimana dengan guru-guru bijak yang senantiasa membimbing kita tiba-tiba pergi meninggalkan dunia? Juga para aktifis-aktifis, orang tua yang didikannya keras tapi lembut hatinya, atau para orang shaleh lain yang satu persatu akan kembali pada Nya? Siapa yang akan menggantikan mereka?

v Masjid sepi
Banyak anak muda jaman sekarang lebih suka shalat di rumah daripada di masjid. Terutama untuk laki-laki yang memang diwajibkan untuk shalat berjamaah. Bahkan hal paling fatal yang pernah ada adalah seorang remaja laki-laki yang tidak hafal lafazd azan. Lantas jika semua orang tua pengumandang azan telah meninggalkan dunia, apa masih ada generasi muda yang akan menggantikan mereka?

v Anjuran mencintai
Hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
“Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.”
(Hadits Shahih Muslim : 2639-161)

v Anjuran berkumpul dengan orang shaleh
Dalam kitab Shifat Ash Shafwah karya Ibnu Al Jauzi (597 H) ulama besar madzhab Hanbali, di mana saat beliau menulis biografi Yahya Bin Muadz Ar Razi ulama yang wafat di Naishabur tahun 258 H, beliau menuliskan bahwa Yahya menyampaikan 5 obat hati (lihat, Shifat Ash Shafwah, 4/92). Dalam kitab itu Yahya bin Muadz menyatakan, ”dawa’ al qalb khomsah asya’” (obat hati ada 5 perkara), yang dalam bahasa Jawa, ”tombo ati iku limo perkarane” (obat hati ada 5 perkara).
Dari lima perkara itu Yahya bin Muadz merinci, ”qira’ah Al Qur’an bi at tafakkur” (membaca Al Qur’an dengan perenungan), yang dalam bahasa Jawa, ”moco Quran angen-angen sakmaknane”. Yang kedua adalah “khala’ al bathn” (kosongkan perut atau berpuasa), yang dalam bahasa jawa, ”weteng siro kudu luwe”. Obat hati selanjutnya adalah, ”qiyam al lail” kalau dijawakan menjadi, ”sholat wengi lakonono”. Selanjutnya adalah, ”tadzarru’ indza as sahr” (merendahkan diri saat waktu sahur) kalau dalam versi Jawa, ”dzikir wengi ingkang suwe”. Sedangkan obat hati yang terakhir yang disebut Yahya bin Mu'adz adalah, ”mujalasah as shalihin” (bermajelis dengan orang-orang shalih) yang dalam versi Jawanya, ”wong kang sholeh kumpulono.” (http://www.hidayatullah.com)
Baca Selengkapnya → Urgensi Tarbiyah Islamiyah
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pemuda, Pesona Dakwah

Minggu, 28 Juli 2013

Urusi Saja Negeri Sendiri !!!

BEGITULAH UKHUWAH,,,
SAAT LUTUT TERLUKA, BERTERIAKLAH SUARA DAN MENANGISLAH KEDUA MATA

Islamedia - "Gak usah urusi negeri orang, urus saja negeri sendiri" begitu komentar salah satu member kami. perlu kami jelaskan, Islam memiliki konsep persaudaraan yang sempurna dan indah. dimana konsep itu adalah, bahwa setiap muslim itu ibarat satu tubuh. Saat saudaranya sakit, maka iapun akan merasakan sakit pula. kecuali bagi orang yang telah mati hatinya, yenag telah membatu dan mengeras bahkan lebih keras dari batu itu sendiri.

Persaudaraan Islam kami ibaratkan seperti kisah anak yang mengejar layang-layang. Ketika seorang anak berlari mengejar layang-layang, tak disengaja ia tersandung batu lalu terjatuh, kedua lututnya terluka, berdarah. secara spontan, mulutnya berteriak "aduuuuh" tanpa komando, kedua matanya menitikan air mata bening, ia menangis. tanpa perintah kedua tangannya memegang lututnya yang terluka, agar berkurang rasa sakitnya, juga tanpa disuruh, otaknya langsung berputar, menggerakan hati, lalu diikuti langkah, matanya mencari sesuatu, obat yang ia cari, serta merta ia mengobati berusaha meyembuhkan.

Begitulah persaudaraan Islam, ia merupakan satu kesatuan tanpa kehilangan satu anggota badan pun. Dimanapun, dibumi manapun, saat dilafadzkan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, maka mereka adalah saudara kita. yang wajib dijaga kehormatannya, yang wajib dipenuhi hak-haknya, yang wajib diselamatkan jiwanya.

Orang yang tidak peduli dengan keadaan saudaranya atau menutup mata terhadap kedzaliman yang menimpanya, ia ibarat orang yang terkena STROKE seluruh tubuhnya bahkan jiwanya. Ia tak mampu berbuat apa-apa terhadap kondisi saudaranya. maka hati-hatilah, saat kita mengacuhkan kondisi saudara kita, bisa jadi kita telah mengalami stroke kejiwaan.
Kepedulian terhadap saudara, pada hakikatnya adalah kepeduian untuk diri sendiri. Ibarat Gravitasi Bumi, saat kita melempar benda ke atas, maka benda itu akan kembali terjatuh ke bawah. bahkan, jatuhnya benda tersebut kebawah, jauh lebih cepat dan lebih keras. Ibarat sedekah, kita begitu berat mengeluarkan, tapi jika sudah dikeluarkan, maka sedekah tersebut akan terbalas lebih cepat dan lebih banyak kepada kita. insyaallah.

Jika masih saja ada yang tak peduli dengan kondisi saudaranya, maka ia ibarat hidup seorang diri tanpa tetangga dan tanpa ada manusia lainnya. Tak kita pungkiri, Indonesia adalah rumah kita yang harus dijaga, tetapi bukan berarti kita juga tutup mata dengan keadaan tetangga sebelah yang sedang teraniaya.

Sabda Rasulullah:
"Barang siapa tidak peduli dengan (urusan) umatku, bukanlah golonganku"...

Wallahu'alam bisshowab
Abu Rafah
Baca Selengkapnya → Urusi Saja Negeri Sendiri !!!
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Indonesia Hari Ini, News, Pemuda, Pesona Dakwah

Jumat, 26 Juli 2013

Jagalah Tiap 3 Detiknya

Saat melingkar siang saya ditanya oleh salah satu binaan.
"kak,bagaimana caranya hidup agar selalu bahagia?"

"jagalah tiap 3 detiknya"

"maksudnya?"

"kakak tanya balik.bisakah kita selama hidup tidak melakukan dosa ataupun maksiat?"

"ya gak mungkin lah kak"

"kalau setahun?"

"ya sama,pasti gak mungkin lah kak"

"kalau sebulan?"

"kayaknya masih susah kak"

"kalau sehari?"

"mungkin sih... tapi masih mungkin sih bukan pasti"

"kalau 3 detik?"

"kalau hanya 3 detik tiap orang pasti bisa kak"

"nah,maka jagalah tiap 3 detik dengan dzikir kepada Allah, karena dengan Allah kau akan bahagia,dengan Allah semua susah sirna,dengan Allah semua masalah menemukan solusinya,karena dengan dzikir kau akan takut bermaksiat...maka jagalah tiap 3 detik yang akan kau lalui, jangan pikirkan bagaimana kau akan menjaga sehari yang dilalui tapi jagalah tiap 3 detik yang sekarang kau lalui dan akan kau lalui.karena kau sendiri yang bilang bahwa kita pasti bisa menjaganya"


"kenapa harus 3 detik kak, kok bukan 5 detik atau 10 detik gitu?"


(sebenarnya saya juga bingung kenapa saya jawab begitu,pake ngarang 3 detik lagi)

 
begini dek,1 menit itu sama dengan 60 menit, jika dibagi 3 maka hasilnya 20....nah nafas rata-rata normal manusia adalah 20x permenit....itu
artinya tiap 3 detik = satu kali nafas (tarikan dan hembusan)....naah maksud kakak jagalah hidupmu ditiap nafas,berdzikirlah padaNya ditiap nafas atau setiap saat dalam hidupmu...maka jagalah tiap detik yang kau lalui mudah kan?"
"lah kak,kalau kita lupa gimana?"


"lupa itu wajar....maka jika ingat segeralah sadar bahwa kau harus menjaga 3 detikmu selanjutnya"
Bintang Polaris 

sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/07/jagalah-tiap-3-detiknya.html

Baca Selengkapnya → Jagalah Tiap 3 Detiknya
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pemuda, Pesona Dakwah, Selembar Kisah

Selasa, 16 Juli 2013

Anjuran Menyampaikan

Menyampaikan ilmu hukumnya adalah fardhu kifayah, dimana status hukum dari sebuah aktivitas dalam Islam yang wajib dilakukan, namun bila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur. Tapi kalau tidak ada yang melakukan berarti dosanya ditanggung bareng-bareng ya?

Katanya orang yang suka menasehati dan ngingetin ini itu namanya bawel dan rese’ (sangat mengganggu). Dengan defisi tersebut berarti orang yang paling bawel dan paling rese’ di dunia ini adalah Rasulullah ya? Masya allah.. ^.^ Rasulullah pernah mengatakan, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Jadi bila ada orang yang tidak ikut dalam suatu majlis, maka orang yang datang wajib menyampaikan kepada yang tidak datang. Dengan cara inilah ilmu dari Rasulullah sampai kepada kita. Subhanallah..
Namun sebaiknya nasehat disampaikan dengan ringkas dan simpel, tidak berpanjang lebar hingga orang yang mendengarkan merasa bosan.

Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Ilm, Bab Man Ja’ala Li Ahli al-Ilm Ayyaman, 1/163, no. 70; dan Muslim, Kitab al-Munafiqin, Bab al-Iqtishad fi al-Mau’izhah, 4/2172, no. 2821.dari Syaqiq bin Salamah, dia berkata,

“Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan kepada kami pada setiap hari Kamis, maka seorang laki-laki bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, Demi Allah sungguh saya berkeinginan agar kamu mengajar kami setiap hari,’ maka dia menjawab, ‘Ketahuilah, yang menghalangiku untuk melakukan hal tersebut adalah karena saya takut akan membuat kalian bosan, dan saya memilihkan waktu yang tepat untuk memberikan nasihat sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memilihkan waktu yang tepat untuk memberikan nasihat karena takut terjadi kebosanan pada kami’.”

“Apabila suatu majlis berlangsung terlalu lama, maka setan mempunyai bagian di dalamnya.”
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 3/366, dan Ibnu Asakir dalam at-Tarikh 55/365.

Menyampaikan ilmu juga harus sesuai dengan orang yang mendengarkan ilmu. Gunakan bahasa yang paling dimengerti pendengar, jangan gunakan bahasa yang bertele-tele atau berputar-putar sehingga yang mendengar malah jadi bingung. Cara menyampaikan ilmu yang lain juga ada, yakni dengan memberi contoh. Ini sangat baik dilakukan untuk adik-adik kecil yang belum paham tentang dalil, hadits, dll.

Dan sebaiknya sebelum menyampaikan, kita harus paham betul dengan apa yang kita sampaikan. Jika belum paham, maka belajarlah dulu. Dengan begitu maksud dan tujuan dari apa yang kita sampaikan dapat tepat sasaran ^.^
Semoga bermanfaat.. (ist)
Baca Selengkapnya → Anjuran Menyampaikan
1 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pemuda, Pesona Dakwah

Kedudukan Wanita



“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya. Maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Kali ini saya akan membicakan tentang wanita. Wanita adalah makhluk berhati lembut yang mudah sekali menangis. Waktu senang dia menangis, waktu sedih dia menangis, lihat bayi baru lahir ikut nangis, liat orang nikahan nangis juga. Apalagi kalo nonton film drama korea. Begh, tisu dua gulung bisa habis.

Tapi bukan itu yang mau saya bahas. Ini tentang emansipasi wanita yang sering di gembar gemborkan oleh kaum feminis.

Sebenarnya, dari mana sih cerita tentang emansipasi wanita itu bermula? Sebenarnya semua itu berasal dari wanita-wanita eropa yang merasa bahwa hak-haknya tidak terpenuhi. Kemudian mereka meracuni muslimah-muslimah sehingga ikut berfikiran bahwa wanita memang diperlakukan tidak adil. Padahal sebelumnya wanita-wanita muslimah kita sama sekali tidak protes dengan apa yang menjadi ketetapan-ketetapan yang ada di dalam Al Quran tentang wanita dan laki-laki.

Ok, mungkin beberapa kaum feminis yang membaca ini akan berfikir bahwa betapa kolotnya wanita muslimah sehingga mau mengikuti peraturan-peraturan yang kebanyakan lebih mengunggulkan laki-laki itu.

Dari hati nurani kita yang paling dalam, apakah sama antara laki-laki dan perempuan??? Tentu jawabannya tidak, laki-laki dan perempuan sangat jauh berbeda.

Bisa dilihat dari sifatnya saja, wanita cenderung merupakan makhluk sosial. Mereka biasa bepergian dalam suatu kelompok, bergerombol, bergandengan tangan, dan saling berangkulan. Bayangkan jika laki-laki melakukan itu. Pasti kita berfikir, ‘ada yang salah nih’.

Ok next, laki-laki merupakan makhluk yang bekerja berdasarkan logika. Mereka cenderung fokus terhadap suatu pekerjaan dan tidak membagi pikiran dengan hal lain. Berbeda dengan wanita yang mampu melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Itulah kehebatan wanita.

Ada lagi, jika kita lihat sekarang, ada Miss Universe, tapi apa ada Mr Universe??? Nggak ada kan? Itu karena laki-laki suka melihat wanita-wanita cantik dan seksi, sedangkan wanita tidak melihat bentuk fisik laki-laki. Wanita cenderung melihat bagaimana tanggung jawab laki-laki terhadap wanita.

Kita lihat kebelakang. Kalo jaman dulu ada perempuan yang pakai baju kemudian kelihatan baju dalamnya pasti dibilang cewek gak bener. Tapi sekarang wanita pakai baju dalamannya doing dibilang ngetrend. Nah, itulah maksudnya eksploitasi wanita. Wanita diracuni untuk terus mengikuti mode jaman yang sebenarnya justru merusak mereka.

Kemudian kita lihat, saat materi menjadi standar ukuran kebahagiaan oleh kaum sekularis. Jelas dalam hal ini laki-laki akan mengungguli wanita dan wanita akan tertinggal oleh laki-laki. Jadilah laki-laki sebagai kaum paling bahagia dibanding kaum wanita. Tapi dalam Islam, standar kebahagiaan adalah ridho Allah. Jika standar kebahagiaan adalah ridho Allah maka laki-laki dan wanita adalah sama.

Laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban masing-masing dalam jenis yang berbeda. Di jaman Rasulullah ada wanita yang protes tentang pahala laki-laki yang lebih banyak dari wanita. Laki-laki dibolehkan shalat berjamaah dan berjihad serta banyak amalan lain sedangkan wanita hanya di rumah mencuci baju dan mengurus anak-anak mereka. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa istri yang taat pada suami pahalanya sama dengan orang yang pergi berjihad. Nah loh, kurang apa?

“Seorang wanita jika meninggal dan suaminya ridho atasnya, maka dia masuk surga.”

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

Sedangkan untuk laki-laki..

“Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada istrinya. (HR. At Tirmidzi, hadits hasan shohih)

Nah, makin banyak aja pintu surga untuk wanita dan laki-laki.

Sudah sudah.. Hukum Allah itu jauh lebih sempurna dari pada tuntutan manusia. Manusia cuma bisa nuntut kok. Laki-laki atau perempuan, syukuri ajah..

Semoga bermanfaat (ist)
Baca Selengkapnya → Kedudukan Wanita
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Indonesia Hari Ini, Pemuda, Pesona Dakwah

Bukan 'Membeli Kucing dalam Karung'

Mungkin momen nya nggak pas banget ya, bulan Ramadhan gini ngomonginnya nikah melulu. Tapi berhubung di sekitar saya lagi ada beberapa kasus tentang hal ini nih, makanya saya jadi menggebu-gebu untuk nulis tentang pernikahan. Okok, kita mulai saja.

Kata nya nih, dalam Islam itu jalan menikahnya seperti ‘membeli kucing dalam karung’. Wah, itu fitnah. Eh, tau kan maksud nya apa? Membeli kucing dalam karung itu artinya memilih sesuatu yang belum pasti apa akibatnya. Gimana? Paham? Ok, kita lanjutkan.

Ust Felix, penulis buku ‘Udah Putusin Aja’ mengatakan bahwa sebenarnya justru pacaran adalah suatu jalan menikah yang serupa dengan membeli kucing dalam karung? Kenapa? Karena saat pacaran, tidak ada yang tau kebenaran dari yang dikatakan oleh pasangan masing-masing. Apa lagi yang backstreet, wah, potensi membeli kucing dalam karung nya besar banget. Bisa aja awalnya baik, alim, pinter, kaya raya, tapi ternyata mobil hasil sewaan, IP ancur-ancuran, dan kawanannya sama preman.

Nah, dalam Islam ada tuntunannya sendiri untuk menuju ke jenjang pernikahan. Beda banget deh sama isu ‘menikah dalam Islam seperti membeli kucing dalam karung’ itu..

Dalam Islam, sebelum seorang laki-laki memutuskan untuk menikahi seorang wanita, ia harus mengenal terlebih dahulu siapa wanita yang mw dia nikahi, begitu pula sebaliknya si wanita harus tahu siapa lelaki yang berhasrat menikahinya. Okok? Tapi caranya bukan dengan jalan pacaran yang sering dilalui oleh kawan-kawan kita di luar sana, caranya adalah dengan ta’aruf. Ta’aruf atau mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah mengetahui siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang memang dibutuhkan. Ini bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari kerabat si lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si lelaki/si wanita. Nah lho, kalo dari orang ketiga, si doi tidak bisa bohong dong..

Tapi tetep harus diperhatikan jangan sampai timbul fitnah. Melakukan hubungan telepon, sms, surat-menyurat, dengan alasan ingin ta’aruf (kenal-mengenal) dengan calon suami/istri, tidak diperkenankan. Jangankan baru ta’aruf, yang sudah resmi meminang pun harus menjaga dirinya dari fitnah. Gak apa-apa sih sebenernya kalo untuk beberapa kebutuhan info terbatas, tapi lebih baik kalo lewat wali saja.

Terus, proses selanjutnya adalah Nazhar (melihat calon pasangan hidup). Ketika nazhar, boleh melihat si wanita pada bagian tubuh yang biasa tampak di depan mahramnya. Bila sekiranya tidak memungkinkan baginya melihat wanita yang ingin dipinang, boleh ia mengutus seorang wanita yang tepercaya guna melihat/mengamati wanita yang ingin dipinang untuk kemudian disampaikan kepadanya.

‘Apabila seorang dari kalian ingin meminang seorang wanita, maka tidak ada dosa baginya melihat si wanita apabila memang tujuan melihatnya untuk meminangnya, walaupun si wanita tidak mengetahui (bahwa dirinya sedang dilihat). ” (HR. Ath-Thahawi, Ahmad 5/424 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath 1/52/1/898, dengan sanad yang shahih, lihat Ash-Shahihah 1/200)

Dan langkah selanjutnya adalah, Khithbah (peminangan). Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya meminang wanita tersebut kepada walinya. Setelah pinangan diterima tentunya ada kelanjutan pembicaraan, kapan akad nikad akan dilangsungkan. Namun tidak berarti setelah peminangan tersebut, si lelaki bebas berduaan dan berhubungan dengan si wanita. Karena selama belum akad keduanya tetap ajnabi, sehingga janganlah seorang muslim bermudah-mudahan dalam hal ini.

Setelah semua itu selesai, baru lah boleh melangsungkan pernikahan. Okok? Ada saran kalau sebaiknya laki-laki melihat si wanita sebelum khitbah (pelamaran), sehingga tidak memberatkan si wanita bila ternyata ia membatalkan khitbahnya karena setelah nazhar ternyata ia tidak menyenangi si wanita. Kalo masih ragu-ragu sama calon, sebaiknya istikharah dulu sebelum mengkhitbah. Gimana? Jelas? Kalo kurang jelas silahkan baca buku “Aku Terima Nikahnya” karya Hasrizal Abdul Jamil. Insya allah makin jelas deh penjelasannya.. berhubung saya Cuma baca sekilas-sekilas. Semoga bermanfaat. (ist)
Baca Selengkapnya → Bukan 'Membeli Kucing dalam Karung'
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pemuda

Rizki Manusia

Di dalam kandungan, telah dituliskan 4 perkara bagi manusia, yaitu umur, rizki, amal dan takdir. Kali ini saya akan membahas tentang rizki nya saja. Semoga dilain kesempatan saya bisa menuliskan tiga perkara yang lain.





Rizki manusia telah tercatat di Lauh Mahfudz oleh Allah. Sedangkan bentuk rizki tidak hanya harta, simpanan emas dan perak, kendaraan, dsb, tetapi juga ilmu, kesehatan, dll. Dimana pada dasarnya rizki merupakan sesuatu yang bisa disyukuri. Dan seseorang tidak akan mati sebelum rizki yang telah ditentukan Allah untuknya habis. Jadi kita tidak perlu khawatir karena rizki ini tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang, dan tidak akan salah alamat. Dari sekian banyak rizki yang Allah berikan, yang berbeda hanya lah dari cara mendapatkannya.

Ust Salim A Fillah mencontohkan rasa dari sebuah cara yang berbeda dalam meraih rizki. Beliau mengibaratkan seperti uang 10 juta yang diberikan dalam bentuk cek dengan amplop yang bagus dan rapih, kemudian diberikan dalam cara yang sopan dan takzim. Dan dibandingkan dengan pemberian uang 10 juta dalam bentuk koin 500-an dengan karung dan diberikan dengan cara dilempar dan dicaci maki. Sama-sama mendapatkan 10 juta, tapi ada perbedaan dalam menerimanya.

Dalam meraih rizki yang Allah berikan, ada dua perbedaan dari cara mendapatkannya, yakni mendapatkan rizki yang didapat dengan cara halal dan rizki yang didapat melalui cara yang haram. Dan perbedaan dari mendapatkan rizki dari jalan halal dan haram adalah rasanya. Sama seperti diawal tadi, kali ini dicontohkan dalam hal jodoh. Jodoh merupakan salah satu bentuk rizki. Kita tinggal memilih, mau diambil dengan jalan halal atau jalan yang haram haram? Yang mana pun jalannya, dapat nya ya yang itu-itu juga. Tapi yang mana, saya juga nggak tau.

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).

Berdasarkan ayat Al Qur’an surat An Nuur ayat 26 diatas, maka yang baik akan mendapatkan yang baik, dan yang tidak baik ada kemungkinan mendapatkan yang tidak baik. Untuk itu maka sebaiknya kita menjadikan diri kita baik agar mendapatkan yang baik pula. Jika kita bermaksiat, maka jodoh kita juga bermaksiat dengan maksiat yang sama disudut dunia yang lain. Jika kita memperbaiki diri, insya allah jodoh kita juga sedang memperbaiki diri di belahan dunia yang lain. Jadi, baik kan diri kita.

Semoga bermanfaat (ist)
Baca Selengkapnya → Rizki Manusia
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pemuda, Pesona Dakwah, Selembar Kisah

Sabtu, 13 Juli 2013

Perjuangan Mesir dan Umat Islam

”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)


Masih kah kalian mengingat pidato Presiden Mursi yang di kudeta oleh militer negara itu? “Allahughayatuna, Ar-rasul qudwatuna. Al-Qur'an dusturuna, aljihad sabiluna, al-mautu fi sabilillah asma'amanina”.

Pembantaian berdarah di subuh hari oleh militer mesir terhadap pendukung mantan presiden Mursi menjadi berita utama di situs dan media Islam. Tak ada satupun umat muslim yang rela melihat saudara-saudara mereka di hujani timah panas saat bersujud di hadapan Rabb nya. Bukan itu saja, berita terakhir mengatakan bahwa para prajurit mesir yang menolak membunuh saudara-saudara mereka juga turut dibunuh. Sesungguhnya kepada Allah lah mereka kembali.

Di Turki, Erdogan, menjadi pemimpin dalam Kampanye Internasional Kembalikan Presiden Mursi. Beliau mengajak negara-negara lain untuk turut serta untuk menolak kudeta militer Mesir dan mengembalikan Presiden Muhammad Mursi.

Di Indonesia sendiri, beberapa pihak yang menyatakan dirinya sebagai Syabab Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jakarta mendukung Muhammad Moursi dan Mengecam Kudeta Militer yang didukung kaum Liberal Sekuler yang anti Islam berjaya. Dukungan ini semata-mata adalah murni didasari Aqidah dan semangat perjuangan saudara-saudara Ikhwan di Mesir yang selalu menyuarakan penerapan hukum Syariah.

Tak lama setelah dimulainya aksi Jum'atuz-Zahf (12/7), jutaan gelombang massa pro legitimasi Mursi dan kembalinya massa revolusi ke jalan-jalan seluruh provinsi Mesir, jumlah demonstran meningkat drastis. Siang malam demonstran ada di jalan. Mereka tak akan berhenti sebelum Mursi dibebaskan. 3 juta, 4 juta orang keluar dari rumah-rumah mereka, memenuhi jalan-jalan di Mesir. Militer kewalahan. Hingga AS meminta agar presiden Mursi dibebaskan, demikian juga kemenlu Jerman.
Baca Selengkapnya → Perjuangan Mesir dan Umat Islam
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Indonesia Hari Ini, Lain-Lain, Pemuda, Pesona Dakwah

Rabu, 10 Juli 2013

Jalan Kemulyaan Lewat Pernikahan

Dalam kehidupan setiap orang shaleh, termasuk di dalamnya kisah-kisah para Nabi, selalu ada peran sesosok makhluk bernama wanita. Ada kisah dimana orang shaleh mendapatkan wanita yang shalehah, misalnya Rasulullah dengan Khadijah. Keduanya merupakan wanita dan laki-laki yang berasal dari keluarga terhormat, nasab nya terhormat, kaya raya, dan hidup penuh kemulyaan.

Dan satu lagi, yaitu Ali dan Fatimah. Jika dibandingkan dengan Rasulullah, kehidupan keduanya sangat jauh berbeda. Jika Rasulullah dan Khadijah hidup berkecukupan, maka hidup Ali dan Fatimah tidak diizinkan untuk berkecukupan.

Di saat pernikahan Ali dan Fatimah. Ali mendapatkan banyak hadiah dan sumbangan dari teman-temannya salah satunya berupa rumah. Kemudian Rasulullah di hari pertama pernikahan langsung mengaudit harta kekayaan menantunya dan terkejut mellihat Ali punya Rumah. “Kok kamu punya Rumah?” “Iya Rasulullah itu sumbangan dari temen-temen.” “Kalo gitu, kembalikan Hai Ali.” “Bagaimana saya kembali kan ya Rasul, saya membutuhkan.” “Kalo gitu, anggap dia hutang, cicil semampu kamu.”

Jadi Ali memulai pernikahan bukan dari nol, tetapi dari negatif. Pernah suatu ketika Ali dan Fatimah meminta pembantu kepada ayahnya, sang pemimpin dunia, Fatimah tidak diizinkan mendapatkan pembantu. Justru yang kemudian diberikan adalah doa, nasehat untuk berzikir. Jadi ketika lelah, Fatimah disuruh bertasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali.

Di suatu saat ketika Ali dan Fatimah tengah duduk-duduk, satu sama lain saling curhat. Ali pun berkata kepada Fatimah, “Demi Allah aku menimba air hingga nyaris putus kedua pundak ku.” Dan Fatimah juga curhat kepada Ali, katanya, “Demi Allah aku menggiling gandum hingga melepuh kedua tangan ku.”

Ada juga suami shaleh dengan istri yang tidak shalehah, dan anak durhaka, yaitu Nabi Nuh dengan istri dan anak nya. Dimana ketika terjadi banjir yang akan menenggelamkan seluruh daratan di muka bumi, Nabi Nuh memanggil anaknya, menyuruhnya naik ke atas perahu yang akan menyelamatkan manusia dan hewan-hewan sesuai dengan perintah Allah. Tetapi anak Nabi Nuh menolak, ia malah pergi ke atas bukit dan akhirnya mati tenggelam. Itu pun Nabi Nuh tidak terhalang untuk mendapatkan kemulyaan karena telah mendidik anak istrinya dengan sebaik-baiknya.

Ada juga suami shaleh, istri shalihah dan shalihat, yaitu Nabi Ibrahim dengan istrinya. Ada lagi suaminya berjat durjana sepanjang masa, dan istrinya shalihah. Itulah Firaun dan istrinya Aisyiyah. Apa kemudian istrinya terhalang dari kemulyaan karena dia memiliki suami yang durjana? Tidak, dia tetap mendapat kemulyaan. Dan ada juga wanita yang tidak menikah tetapi tetap mendapat kemulyaan, itulah Maryam. Ada banyak jalan menuju kemulyaan, tapi tentu kita menginginkan kemulyaan dari jalan yang terbaik. Jadi, anda mau yang mana?

from : http://www.youtube.com/watch?v=_xC1GKIkz-c
kajian pra nikah, ust Salim A Fillah
Baca Selengkapnya → Jalan Kemulyaan Lewat Pernikahan
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pemuda

Senin, 08 Juli 2013

Kejujuran dan Puasa Ramadhan



Jujur Dalam Islam

Ada beberapa aspek JUJUR dalam Islam:Pertama, Jujur dalam kehidupan sehari-hari; merupakan anjuran dari Allah dan Rasulnya. Banyak ayat Al Qur'an menerangkan kedudukan orang-orang jujur antara lain: QS. Ali Imran (3): 15-17, An Nisa' (4): 69, Al Maidah (5): 119.

Begitu juga secara gamblang Rasulullah menyatakan dengan sabdanya: "Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Kedua, kejujuran dan kebohongan dalam kehidupan politik; ada hadits yang menyatakan dengan tegas bahwa Rasulullah bersabda: "Ada tiga kriteria manusia yang tidak dilihat dan disucikan Allah swt. di hari akherat bahkan bagi mereka adzab yang pedih adalah: Orang sudah tua yang berzina, Pemimpin yang berdusta, dan Orang sombong.

Adapun kebohongan yang diperbolehkan dalam kaitan untuk kegiatan berpolitik, yaitu apabila kebohongan itu bisa meredam keributan sosial agar tidak terjadi perpecahan. Dalam hal ini Rasulullah saw. memberi keringanan seperti dalam hadis dari Ummi Kaltsoum: "Saya tidak mendengar Rasulullah saw. memberi keringanan pada suatu kebohongan kecuali tiga masalah: Seseorang yang membicarakan masalah dengan maksud mengadakan perbaikan (Islah); seseorang membicarakan masalah pada saat konflik perang (agar selamat), dan seseorang yang merayu istrinya begitu juga istri merayu suami (HR. Muslim).

Ada juga hadits yang menyatakan, Rasulullah bersabda: "Bukanlah pendusta orang yang ingin melerai konflik sesama, hingga orang tersebut berkata: semoga baik dan menjadi baik" (HR. Mutafaq Alaih).

Kejujuran adalah kunci keberkahan. Kalau kejujuran sudah hilang di tengah-tengah masyarakat, keberkahannya pun akan hilang pula. Dan, apabila keberkahan sudah hilang, kehidupan menjadi kering, hampa tanpa makna.

Puasa Melatih Kejujuran

Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah swt.

Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikit pun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut membatalkan ibadah puasa.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.

Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari ibadah puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagai bagian dari kehidupan riil dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.

Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna, pungli, korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa.

(ist) -dari berbagai sumber-
Baca Selengkapnya → Kejujuran dan Puasa Ramadhan
Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Indonesia Hari Ini, Pemuda, Pesona Dakwah
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Ukhuwah itu Indah

Ukhuwah itu Indah

PIKAT SMAN 75 Jakarta

PIKAT SMAN 75 Jakarta

Label

  • Agenda Kegiatan (9)
  • Fiqus sunnah (1)
  • Foto Kegiatan (6)
  • Indonesia Hari Ini (20)
  • Lain-Lain (8)
  • News (10)
  • Pemuda (23)
  • Pesona Dakwah (23)
  • Selembar Kisah (16)

Arsip Blog

  • Desember (2)
  • Oktober (1)
  • September (3)
  • Agustus (4)
  • Juli (32)
  • Juni (27)

ROHIS SMAN 75 Jakarta

ROHIS SMAN 75 Jakarta

Cari Blog Ini

Entri Populer

  • Pengelolaan Limbah Kopi
  • Budidaya Kaktus
  • Lahan Pesisir
  • Kejujuran dan Puasa Ramadhan
  • Anjuran Menyampaikan
  • Obat anti Putus Asa
  • Peran Agama dalam Subsistem Agribisnis

Pemuda

Pemuda
Pemuda tak pernah kehilangan karya. 'Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia' (Soekarno).

Dokumentasi Sarasehan 75

Dokumentasi Sarasehan 75
Ini adalah Acara Sarasehan 75 (Silaturahmi Rohis dan Alumni Seluruh Angkatan SMA 75) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2013 di Masjid Al Hikmah dalam lingkungan SMA 75

Indonesia Hari Ini

Indonesia Hari Ini
Banyak hal terjadi disekitar kita, mulai dari budaya, ekonomi, politik hingga isu-isu terhangat.

Dokumentasi Halal Bihalal 2013

Dokumentasi Halal Bihalal 2013
Ini adalah acara Halal Bihalal yang dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2013 di Masjid Al Amal

Pesona Dakwah

Pesona Dakwah
Tidak ada yang lebih berat perjuangannya selain dakwah di jalan Allah. Namun di balik itu semua ada janji-janji Nya yang sangat indah dan berkah-berkah melimpah ditiap kerikil dan duri yang kita temui.
Tema Perjalanan. Gambar tema oleh TommyIX. Diberdayakan oleh Blogger.